For some people, life begin 30's, mungkin begitu pula yang aa rasakan saat ini. bagi sebagian besar kaum pria-termasuk anda-memasuki usia 30-an adalah saat-saat yang tidak menyenangkan. bukan saja karena usia kepala tiga memiliki arti bahwa seorang pria harus rela melepaskan sebutan "muda"..duuuh..yang selama ini melekat pada diri kita, namun tuntutan tanggung jawab jg telah memaksa kita teh memasuki sebuah dunia yang menuntut keseriusan untuk dijalani. Selamat datang di dunia kedewasaan..Welcome to the jungle..halah...!
Menjadi Dewasa di Usia 25?
Yah itulah ketika anda mendapatkan kaki anda sendiri. Kita mulai faham eksistensi di lingkungan sosial amat dipengaruhi oleh seberapa besar achievement yang telah (dan akan) anda raih. Alhamdulillah aa yang menikah di usia menjelang 24 th mungkin bisa disebut pendewasaan atau bahkan mungkin penuaan dini..hehe..maklum dengan tampilan fisik yang dipaksakan boros dengan memelihara janggut panjang dan model kacamata agak jadul, karena tuntutan dakwah biar gak dikatakan anak kecil, jg disamping menghindari uberan kaum hawa...ke3x..maap kalo agak narzsm..kata orang sih aa teh ganteng nggak tapi dikatakan jelek jg sulit..hueheuhue..disamping itu gelar ust honoris causa yang melekat sebagai aktivis dakwah..cie..membuat lingkungan sudah mendorong secara revolusioner progresif menjadikan dewasa diusia muda. tapi benarkah sudah dewasa?
Pada satu sisi, kondisi ini terasa amat melegakan. For the first time dalam hidup kita, kita merasa menjadi sebuah pribadi yang mandiri. Pendapat dan suara kita mulai di dengar walau hanya di forum halaqoh, usul dan kritik kita mulai dipertimbangkan, ada kebanggaan yang besar dalam diri kita saat orang-orang mulai menghargai kita sebagai pria dewasa. Tentu saja ada konsekuensi atas semua itu, kita harus berjuang sendiri untuk memperoleh respek dari lingkungan dimanapun kita berada, di kantor, dirumah, maupun komunitas-komunitas dimana kita beraktivitas. Terkadang tak jarang keinginan untuk mendapatkan respek sebagai orang dewasa ini mendatangkan beban tersendiri bahkan kadang berlebihan. Nah disaat itulah kita memutuskan sejanak untuk take a break, mencari kehangatan keluarga, bernostalgia dengan masa lalu, sembari menyandarkan beban kita pada ortu, keluarga, atau teman yang dulu sering menjadi sandaran emosional kita ktika mendapatkan masalah.
Sejujurnya, kita tak pernah benar-benar dewasa pada usia 25. pada tahun-tahun itu kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk berfikir, mencari cara yang tepat to deal with every single pressure yang kita rasakan. Jika dulu kita senang spending time dengan berkumpul bersama kawan-kawan, maka pada usia 25 tahun dituntut untuk lebih fokus pada kelangsungan masa depan, tak ada lagi acara hang out bersama teman di waktu produktif kita.
Pada masa-masa awal, tumbuh ketidakrelaan dalam hati kecil kita meninggalkan semua kesenangan dan kemudahan yang biasa kita peroleh di masa remaja, ketidak relaan inilah yang menyebabkan kita belum bisa disebut seorang dewasa 100%. Karena kita masih melaksanakan kewajiban-kewajiban baru dengan setengah hati.
Memasuki Usia 30th
Tanpa terasa tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Kita teh sudah semakin terbiasa dengan beban tanggung jawab yang dialamatkan pada kita, dan begitu kita tersadar, kita teh udah berada dipenghujung usia 20th dan menapaki tangga awal dekade 30th-an. Kadang kita berkaca depan cermin..euleuh-euleuh geuning...udah 30 th...hiks...sebentar lagi anak kita akan berkata,”ayah kau nampak tua dan lelah”. Disatu sisi Aa bersyukur krn belum dikarunia momongan sehingga terkadang masih terasa amat muda...maap kalo maksa..peace..
Saat grew up menjadi absolutely gentlemen kita mulai bisa mengendalikan emosi dan mulai memahami mengapa kita harus melakukan sebuah lompatan pada momentum early 30’s.
Bagi sebagian kaum wanita, bersiap memasuki usia 30-an berarti juga bersiap kehilangan sesuatu yang selama ini mereka bangga-banggakan, yaitu kecantikan lahiriah. Sebabnya, tentu saja karena kebanyakan dari mereka terutama yang mindset agamanya kurang kuat berfikir bahwa nilai yang mereka miliki sangat dipengaruhi appearance mereka.
Kembali kepada konteks seorang pria, usia 30-an adalah masa yang cukup krusial, pada durasi ini seorang pria dewasa akan diuji apakah dirinya mampu memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk meraih kesuksesan, itulah kenapa bagi sebagian pria, hidup sebenarnya dimulai ktika memasuki usia 30-an. Life begin 30’s. Remember kualitas seorang pria ditentukan oleh achievement atau pencapaianya...

1 Comment:

  1. dr. Yuni Eka Anggraini said...
    Iya..sama yaa..:) subhanallah...semoga usia yg tersisa lebih berkah nantinya.. Saya link ya akh..syukron.

Post a Comment