
oleh:
KH. Rahmat Abdullah
Apa yang dilakukan umat manusia, dalam perjuangan fitroh perjuangan membela kehidupannya sehari-hari dalam lapangan pendidikan, dalam lapangan politik bahkan semua bentuk peribadatan manusia disadari atau tidak disadari oleh pelakunya, pada hakikatnya hal itu adalah pelaksanaan satu sifat umum, sifat dasar manusia yang selalu cenderung menuju perubahan atau kecenderungan taghyir dan demikianlah taghyir berlangsung pada seluruh mahluk Allah SWT. Thouron an Thogrin satu fase demi satu fase tahapan demi tahapan. Bahkan upaya mempertahankan kehidupan dengan bukti-bukti naluri manusia, fitrah manusia terus-menerus menjawab, merespon dan mencari pemecahan bagi problematik mereka. Sampai mereka menemukan dalam lompatan-lompatan peradaban manusia menemukan api, menemukan mesin uap, menemukan satelit dan lain-lain.
Semua merupakan jawaban, bahwa manusia memang cenderung untuk berobah yang secara ideal perubahan itu adalah menuju lebih berkualitas dan lebih tinggi walaupun ternyata disisi lain sering terjadi perobahan itu dengan meningkatnya kualitas teknologi dengan semakin tingginya kemampuan mereka mengelola duaniawi dan hal-hal bersifat teknis ternyata semakin canggih yang mereka dapatkan pada sarana-sarana itu semakin canggih pula sarana itu mengantarkan mereka pada kehancuran. Bagaimana mereka melipat gandakan dosa dengan cepat sementara dulu orang bisa membunuh satu orang dengan satu ayunan pedang, atau satu batang panah untuk satu nyawa sekarang hanya dengan satu kepal benda bisa menghancurkan begitu banyak orang apabila dilaksanakan bukan dengan sasaran dan tujuan yang benar.
Ma’asyirol muslimin Rahimakumulloh
Bagimanapun, kita mengatakan bahwasannya manusia sudah sedemikian rupa dengan kekuatanya terkepung oleh kekuasaan Allah swt. Begitu banyak yang dikuasai tetapi begitu banyak apa yang diluar kemampuannya mereka bisa menciptakan senjata-senjata penghancur, kendaraan-kendaraan yang melintas dengan cepat di alam ini, tetapi mereka belum bisa menghentikan atau membuat senjata anti gempa, belum bisa membuat senjata anti angin topan dan tsunami, bahkan mereka belum bisa menemukan obat bagi penyakit bagi hati mereka, kecuali kalau mereka kembali kepada pencipta mereka. Kepada konsep yang Allah berikan الرحمان (1) علم القران (2) خلق الإنسان(3)علمه البيان(4)
Ma’asyirol muslimin Rahimakumulloh
Lepas dari semua kenyataan itu, Allah swt memberikan penghargaan tinggi kepada manusia DR Sa’id Ramadhan Al Buthi’ membuat suatu tulisan yang sangat baik tentang “siapa manusia sesungguhnya pemilik takdir dalam kehidupan manusia” beliau mengakui betapa manusia punya hak pilih akan tetapi kekuasaan yang lebih besar membatasi gerak mereka dan disitu mereka harus menyerah kepada pemilik takdir sejati. Namun demikian pada ayat yang didepan tadi saya baca QS: AR – Ra’d ( 13 : 11) Allah menyatakan ……………….. “Sesungguhnya Allah tidak merobah apa yang ada pada suatu kaum, sebelum mereka merobah apa yang ada pada diri mereka”. Di Indonesia ayat ini pernah terkenal walaupun pembacaan setiap waktu, pembacaan Qur’an setiap waktu, penghayatannya wa Allahu’alam. Untuk mengangkat semangat dan ma’nawiyah semangat juang bangsa kulit berwarna yang dijajah, mulai lah diperkenal kan diawal pada abad 20 ini ayat yang sering diucapkan itu diangkat menjadi isu sentral bagi bangsa-bangsa terjajah, Said Amir Ali dan beberapa tokoh pemikir lainnya memperkenalkannya dan di indonesia pernah diperkenalkan oleh Soekarno dan tentu saja menerjemahkannya dengan semangat ke-Indonesiaan yang juga sering kali juag tertinggal jiwa dan semangat Qur’an yang sesungguhnya Dengan semangatnya ia katakan “Tuhan tidak merobah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasib mereka sendiri” betulkah terjemahan itu ?. Sepintas lalu seperti ia, sebenarnya ayat ini menyatakan suatu bentuk perobahan yang mendasar tidak cukup diterjemahkan “Tuhan tidak merobah nasib suatu bangsa sebelum mereka merobah nasib mereka sendiri” sesungguhnya dia menggambarkan abjadiyat “at-taghyir” alpabeta perobahan dari mana dimulainya, apa yang lebih dulu harus dirobah?. Para penafsir, dengan kehalusan tela’ah mereka mengatakan ……………………………………
Artinya sesungguhnya Allah tidak akan merobah apa yang ada ‘maa bi qoumin-apa, ma nakiroh dia bentuk tidak definitif umum- apa saja yang ada pada bangsa itu. Allah tidak merobah ekonomi bangsa itu, Allah tidak merobah politik bangsa itu, Allah tidak merobah posisi mereka ditengah dunia, Allah tidak akan merobah harga dan posisi tawar mereka, Allah tidak merobah posisi mereka yang dilecehkan, dihinakan, dipermainkan bangsa-bangsa didunia Allah tidak akan merobah itu. Hatta yu ghoiyyiru –sebelum mereka sendiri mau merobah – ma bi anfusihim –apa yang ada dalam batin mereka sendiri dimulai dari ruh dimulai dari jiwa, dari paradigma dari cara berfikir -ma bi anfussihim-, anfus (jiwa). Kita tahu, setiap rejim dimanapun sangat ngeri kalau ekonomi kita terurus, ngeri kalau dia ditumbangkan karena tidak beres dalam menata ekonomi. Apa saja boleh dipertaruhkannya, termasuk menjual bangsanya kepada bangsa-bangsa lain agar rakyatnya bisa kenyang, soal hutang itu akan menjerat leher mereka itu soal lain, mengapa ? kelangsungan rezim, yang terkadang rezim berma’na rojim yaitu yang terlempar dan terkutuk karena kesalahan dan penyesatan yang mereka lakukan. Akan tetapi perobahan-perobahan yang mendasar sering kali tertunda atau tidak sempat diperhatikan, kita lihat ketika terjadi kerusakan dari atas sampai kebawah timbul perubahan yang sangat mendasar kita tinggal mencari benarkah bangsa ini masih menjadi bangsa yang santun, benarkah bangsa ini masih menjadi bangsa yang penyayang dan pemaaf. Tidak sukar mencari kejadian-kejadian, hal-hal yang tidak terselesaikan. Pencurian sepeda motor menyebabkan sekali ketemu pencuri itu di bakar hidup-hidup, penodongan disiang hari, kendaraan dipentung dengan palu disiang hari, perampokan, pemerasan terang-terangan dan lain-lain. Ini bentuk, satu bentuk frofil yang sangat bertentangan. Ketika dizaman khalifah Umar bin Abdul Azis yang disebut Al khalifah kholisah – kalifah ke lima – disana ada serigala bermain-main dipadang disampingnya kambing-kambingpun bermain tanpa rasa takut akan diterkam. Itulah, pemerintahan sepanjang khalifah Umar bin Azis sampai-sampai utusan negara asing yang datang terheran-heran melihat kambing-kambing dengan aman bermain. Seorang arif memberikan komentar ketika dia terheran-heran “Idza sholuha ro’su, sholuha’ sa irul jaza” apa bila kepala sehat, seluruh tubuh akan menjadi sehat. Ketika seorang gubernur melaporkan gempa bumi yang merontokkan dinding-dinding, merontokkan rumah-rumah penduduk, dan tapal batas kota, batas-batas kota, tempat-tempat rawan yang memungkinkan kawasan diluar itu melakukan penjarahan. Gubernur minta uang tambahan biaya untuk perbaikan, Umar bin Abdul Azis mengerimkan surat “ idza balaghol kitaabihi fadhliha bil iman wah risha bit taqwa” -Apabila kaum mulai membaca suratku, segeralah lakukan renovasi bangunlah kota kamu, bangunlah propinsi dibawah tanggung jawab mu dengan iman, dan pagari, bangun temboknya tinggi-tinggi dengan taqwa. Apa makna kalimat ini, kita faham nenek kita meletakkan uang dibawah bantal ketika kecurangan kelicikan makin canggih dia letakkan uang itu didalam laci lemari ketika akal licik akal bulus juga bisa mengakali uang yang sudah dikunci kuat-kuat itu, orang membuat kotak besi –belum bernama brankas- ketika masih bisa ditembus orang membuat brankas dengan beratnya sangat, dindingnya tebal dari baja itu juga masih bisa ditembus. Hari ini kita bisa melihat teknologi penyimpanan uang yang begitu dahsyat, lemari besi yang berat diletakkan dalam kamar yang dindingnya dari baja yang sangat kuat diatur dikendalikan dengan komputer, tetapi apa yang terjadi pencurian dan perampokan tidak henti-hentinya. Kita lihat, dulu tahun lima puluhan enam puluhan orang mau jadi ahli pembukuan cukup sekolah SMU ditambah kursus Bon A atau Bon B sudah menjadi orang paling terkemuka di kampung itu, sekarang ini ada S1 untuk akuntan, ada D3 ada S2, adaS3 kemajuan yang sangat sepektakuler dalam ilmu pembukuan sekaligus juga sebenarnya kalau kita merenungkan kemajuan yang luar biasa dari kualitas kejahatan yang tiada taranya. Dengan hanya beberapa hari saja dana rakyat bisa hilang ratusan trilyun, mengapa ?. Kecanggihan mereka, kelemahan kontrol bagaimana bisa merubah bangsa itu, “Idza sholuha ro’su, sholuha’ sa irul jaza” apa bila kepala baik maka, seluruh tubuh akan menjadi baik. Betul kata kalifah Umar, bangunlah propinsi kamu dengan iman, temboki dengan tembok taqwa. Itulah pemelihara sejati kehidupan ini, tembok-tembok yang besar, brankas yang luar biasa canggihnya tetap bisa ditembus oleh kecurangan manusia. Namun sayang sering kali orang kurang memperhatikan aspek pembangunan seperti ini, padahal Allah mengatakan ‘maa bi anfusihim’ mulai lah dengan perubahan dari diri mereka, dari jiwa mereka sendiri’.
Ma’asyirol muslimin Rahimakumullah
Ustadz Sa’id Hawwa rahimahullah, menawarkan empat perubahan pada empat penyakit dalam otak kita. Beliau melihat ada empat penyakit utama, dalam aqliyyah cara berfikir kita yang kalau tidak dirobah, tidak diperbaiki kita tidak akan berobah. Orde Lama menjadikan politik sebagai panglima, sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan masa awal ia perlukan jargon-jargon kemerdekaan dan bangsa-bangsa “new emerging force” suatu energi baru, bangsa-bangsa dan kekuatan baru politik adalah panglima tidak peduli keluar dari PBB, rakyat tidak lagi minum susu, anak-anak sekolah tidak mendapatkan gizi yang cukup, tidak peduli! Penduduk berikutnya, extern berikutnya menyusun panglimanya adalah ekonomi segalanya serba terbuka pinjaman luar negri yang dahsyat, tenggelam negri ini dengan kesenangan sehingga amar ma’ruf nahi munkar terasa sukar, mengapa ? Setiap orang yang sudah mendapat limpahan-limpahan kesenangan sukar untuk bicara dengan ( amar ma’ruf nahi munkar, red ), kenapa ? Kehilangan itu dia sangat takutkan, pepatah arab mengatakan idza arodallahu halaka namlatis anbata lah antum laha jannah khoir ( apabila Allah ingin mematikan semut, Allah tumbuhkan dua sayap”. Itulah air kehidupan yang dilalar berterbangan masuk ke air dan selesai hidupannya. Tentu saja kita tidak bisa menghindar dari keperluan duniawi, dari memelihara rakyat kalau mereka lapar mereka akan menjadi brutal, mereka akan menjadi sangar. Tetapi, bukankah pinjaman yang sangat banyak, uang yang sangat banyak tidak mencegah, rakyatpun menjadi perampok bahkan ada yang merampok hanya dengan sebuah spidol, merampok dengan sebuah tanda tangan, merubah minumnya tidak lagi minum air teh merubah minumnya menjadi bensin dengan sekali minum tiga ratus tanker, merubah makannya tidak lagi makan nasi dan roti merubah menjadi makan aspal sekali makan dua ratus kilo meter, memakan hutan, memakan bangunan dan lain-lain. Fitroh sudah berubah, yang tidak pernah kerja bertanya besok makan apa tidak, yang sudah punya gaji kecil-kecilan bertanya besok makan apa, -sudah punya pilihan- naik hasilnya, naik banyaknya uang masuk kekantongnya dia bertanya besok makan dimana, tidak puas-puas nafsunya dia akan bertanya besok makan bagaimana sambil berdiri atau sambil menari, sambil duduk atau sambil berbaring, kepuasan! kerakusan ! dan pertanyaan berikutnya akan sangat berbahaya esok makan siapa ! Siapa makan siapa?.
Masyirol muslimin rahimakumullah
Yang pertama aqliyyah kita ini perlu dirubah dari aqliyyah jadidah-otak jumud,otak beku-cara berfikir yang beku, Islamlah yang membuat otak kita menjadi cair. Ayat yang pertama turun berbunyi Iqro’ agar kita dinamis agar kita selalu terbuka, agar kita dinamis melihat alam ini dan menjadi selalu baru yang tidak berubah adalah al-qur’an itu sendiri sebagai patokan sebagai minhajul hayyah sayang setiap kita bicara tentang al-qur’an segera saja kadang-kadang lebih banyak musuh ini lalu mengatakan extrimis, fundamentalis, atau termasuk ada orang mengatakan ‘kuno’ dan ketinggal zaman apa yang disebut Islam yang terkait dengan Islam dan korban. Sebagai mana dikritik oleh Al – Ustadz, Almarhum Al Ustadz Muhammad al Ghazali dunia kita hari ini berhubungan Qur’an lebih banyak yang di hubungkan dengan al-qur’an adalah orang mati, Qur’an baru keluar dari almari ketika ada keluarga yang mati sesudah itu orang meninggalkan Qur’an lagi. Rasanya sindiran ini, lebih terkait pada permasalahan malasnya kita mengkaji Qur’an sehingga otak kita menjadi jumud. Ini lepas dari soal masalah-masalah orang baca Qur’an waktu kematian atau tidak, tetapi memang kebanyakan orang tidak peduli tentang petunjuk Qur’an. Litundziro man kana hayyan wa ya hiqqol kaulal kafiriin padahal Qur’an adalah untuk memberi ingat orang yang hidup dan memberikan janji, memastikan janji atas orang-orang kafir. Wilayah khilafiyyah kita tidak bahas di sini, akan tetapi kritik ini menjadi bagian yang harus kita renungkan dari jumudnya otak kita, aqliyyah jadiidah. Kita harus buka, ( kullin zuru) lihatlah ! kajilah ! “IQRO’” Dia tidak akan ketinggalan di situ ada berita orang dahulu kala harus ---- Rasulullah s.a.w., ada informasi tentang masa depan dia tidak akan menjadi usang dengan banyaknya dibaca dan di kaji karnanya dia bernama Al-Qur’an. Kemudian ilmu pengetahuan, kita dengan jadidah kita ini menjadi umpan, rakyat menjadi umpan dari tipu daya, beberapa pemimpin yang sengaja minimal memanfaatkan kebodohan rakyat yang selalu bisa di tipu dengan mitos dengan dongeng-dongeng bahkan dilembagakan dongeng-dongeng itu, bahkan di lestarikan dongeng-dongeng itu, tentang kesaktian, kanuragan, kedigjayaan, dan lain-lain. Sehingga bisa jadi pemimpin tidak bisa dikritik, bahkan sebagian sudah menyerah, kalau menjadi bodoh tidak perlu sekolah sampai doktor dan Profesor tidak sekolah pun orang sudah menjadi bodoh, mengapa orang sudah begitu -bergelar- tetapi masih menjadi bodoh dengan mempercayai hal-hal yang tidak patut dipercayai sehingga negeri semakin terpuruk oleh bermacam-macam mitos. Dalam dunia Hindu raja disebut titisan dewa, ada raja Punawarman titisan dewa Brahma, ada raja Erlangga titisan dewa Wisnu di Jawa Timur, kesimpulannya kalau rajanya titisan dewa bagaimana bisa kita kritik, bagaimana kita melawan, melawan raja berarti melawan dewa. Di zaman Islam tidak ada lagi dewa-dewa, karena refleksi awal orang melihat Islam adalah Laa Ila Ha il La llah –Tauhid- maka syaitan masuk dari pintu lain. Ada sebuah kamar di Kraton sana, disana ada sebuah ranjang tidak sembarang orang boleh masuk dan duduk di sana apa itu ? Itulah kamar dan ranjang Nyai Nyi Roro Kidul, apa hubungan dengan kraton di sana dia adalah istri sultan di alam sana, kalau istrinya saja menguasai lautan selatan sampai di benua Afrika sampai di sebelah sana pantai timur, pantai barat amerika samapai melewati Australia itu istrinya bagaimana suaminya. Demikianlah jumudnya kita, tidak ada jalan lain kecuali kita ini membuka dan sesuai dengan do’a nabi Ibrohim beliau meminta dalam surat Al-Baqoroh : 129 menyatakan ----------------------------------------------------------
Ya Allah bangkitkanlah di dalam keturun ku nanti generasi yang akan datang seorang nabi Yang Allah terima yaitu Nabi Muhammad s.a.w. yang kerangka kerjanya yang pertama membacakan pada mereka ayat-ayat Engkau ayat tiga pertama membaca ayat dan ada ayat mansyuroh terbuka di alam ada ayat masturoh ayat yang tertulis. Ayat-ayat kita baca di Qur’an ini, adalah selalu tidak pernah bertentangan dengan ayat yang terbuka di alam semesta kalau dua-duanya kita baca, kita tidak akan jumud otak kita karenanya dua aktifitas harus berjalan seiring “ IQRO’” (membaca) itulah aktifitas ‘yatafakkaruna fi qolqis samawati wal ard’ Iqro’ tidak cukup harus dengan bismi rob bika yaitu ‘yadzkurunallaha qiyaman wa qu’uudan ( berzikir) yang berdzikir tidak pernah mengasah intelektulitasnya dzikirnya kosong ‘hampa’ karena dia pernah melihat dengan kekaguman atas karunia rahmah semesta yang Allah berikan begitu membentang dan keajaibannya dari ujung rambut sampai ujung kukunya saja tidak pernah habis karunia dan tanda-tanda keagungan Allah swt keajaiban sebatang tubuh dengan jantung yang tidak pernah berhenti berdetak dengan syaraf yang begitu aneh terjadi dengan jalan seluruh tubuh yang begitu ajaib jauh dari tamat untuk dipelajari manusia. Dia berdzikir dengan hampa atau orang berfikir tanpa bismirobbika ? iqro’ membaca-membaca, mengkaji tanpa menyakini bahwa itu tanda Allah swt dia akan menjadi sombong, menjadi angkuh, tidak pernah menghadirkan Allah dalam kehidupannya karenanya bangsa yang sudah begitu maju kelihatannya akan tetapi kosong ia akan tertipu, bangsa itu cuma merasa dirinya maju tetapi ekonominya di kerjai orang lain, megapa ? dia bisa minum kopi dengan harga lima ratus rupiah, minum teh dengan harga lima ratus rupiah, akan tetapi dia pergi ke tempat yang bernama suatu tempat yang mengingatkan nama barat ( western ) apakah itu bernama holywood atau apa, disana dia harus bayar mahal puluhan juta, selebihnya adalah pembeli gengsi. Itulah orang-orang yang sangat lemah padahal Allah mengatakan ‘wala tahinu wala tahzanu antumul ‘ala’________ makanan-makanan jung food yang berbahaya bagi tubuh hanya karena bermerek barat hari ini diserbu orang-orang kampung dan kita tahu dampak apa yang di hasilkan dari makanan-makanan yang tidak sehat itu, lemah, mindernya bangsa-bangsa muslim ini membuat ekonomi orang lain menjadi tambah maju dibawah kebodohan kita sendiri. Kemudian aqliyyah jadidah ini, kita rubah menjadi aqliyyah mutaqow wiro yang dinamis, terbuka, kritis, sayang sebagian kita kritisnya kepada Qur’an, pada hadits dia kritik dia ragukan, pada Qur’an dia ragukan, tapi kalau Qoola fulan, qoola mausetung, qoola lenin, tidak, tidak mereka kritisi lagi kalau sudah si fulan bicara tidak kritisi, kalau Qur’an Oooo maksudnya begini, kalau hadits begini maksudnya tidak begini maksudnya, itu super jumud. Kemudian yang kedua Aqliyah qouliyah –logika umum- kita lebih banyak berbicara, hari ini kita masih melihat karikatur seorang bapak melihat kulit pisang di depan pintu teriak dia ini bagaimana ? melempar kulit pisang didepan pintu kalau keinjak jatuh bahaya, sudah dia teriak begitu diam, ibunya pulang juga begitu ini enggak betul makan pisang melempar kulit sembarangan bahaya -kita masih tahapan memperbincangkan masalah- datang anak TK menginjak kulit pisang jatuh geger otak. Hari ini kita tahu bahwasannya diserahkan kontrol kepada rakyat, yang namanya rakyat tentu saja tidak bisa diserahkan semua masalah apalagi yang hal-hal yang menyenangkan. Rasulullah s.a.w. mengatakan “masa li wama salukum kama sali rojulin” seumpama aku dengan kamu seperti seorang laki-laki yang ‘au qodanaaron’ menyalakan lampu tiba-tiba datanganlah laron-laron, serangga-serangga bertaburan di sana menghadapi api itu, kedatangan ku meyatakan kebenaran akan tetapi sesudah kamu tahu kebenaran banyak dia antara kamu datang seperti laron justru menerjuni yang di larang. ‘Wa huwa yathlubuhunna anta’ laki-laki menyalakan api itu, menepiskan supaya laron tidak jatuh ke api ‘wa ana akhidza min udza zi kum’ aku pegang pinggang kamu, aku pegang tubuh kamu, jangan sampai kamu masuk kedalam api ‘wa antum tafalatuna minyadih’ dan kamu terlepas dari tangan ku. Kalau rakyat dibiarkan mengontrol televisi mereka tidak akan ada protes, keharusan pemerintahan itu dengan tangan besinya melarang iklan-iklan jahat, Singapore pun tidak berani memasukan bay wacth, tidak memasukan iklan-iklan rusak, iklan-iklan yang melecehkan perempuan Indonesia sangat pandai bicara soal ketinggian nilai perempuan tetapi pada saat yang sama menginjak-injak mereka demi kepentingan perusahaan iklan yang rakus itu. Untuk tidak kita menjadi tukang ngomong saja, saya katakan hari ini uang seratus ribu rupiah dikantong kita sudah tidak bisa lagi dibelikan bakso, seribu rupiah dikantong kita tidak bisa kita gunakan membeli ES, kecuali air sedikit, tapi kita bisa membelikan beberapa pulsa, kita bisa membeli beberapa kertas mengirimkan surat kepemancar televisi menelepon pemegang siaran itu, bahwa kamu telah merusak generasi muda, merusak bangsa ini, merusak pelajar-pelajar, hentikan siaran itu! Itulah aqliyyah yang kita alihkan dari qouliyyah pada kerja nyata, jangan sampai kita mengeluh , menggerutu tidak pernah berbuat apapun, tentu saja kita tidak akan mengatakan pergi sana ! serbu!hancurcan itu ! itu adalah urusan anda masing-masing mau serbu itu, saya tidak melarang. Apakah menyuruh? semua faham apa yang harus dilakukannya.
Yang ke tiga aqliyyah ahlam –logika mimpi- kiranya bermimpi tentang, tentang, tentang, tentang sesuatu, sesuatu. Sehingga tidak pernah mengkritisi masalah, bermimpi barangkali, barangkali, sementara orang sudah terlalu jauh, terlalu jauh menghancurkan kita. Tahukah kita?, sampai lebaran kemarin angka NARKOBA, mangsa NARKOBA sudah berjumlah 1,3 juta. 1,3 juta artinya satu dalam seratus lima puluh bangsa Indonesia kena NARKOBA dan itu paling banyak generasi muda terjadilah ‘lost generation’(baktu) kehilangan generasi jilid kedua. Sesudah susu menghilang dari pasaran artinya, harga lima ribu menjadi dua puluh ribu, ibu-ibu modern yang tidak menyusukan anaknya menyusukan pada sapi yang menjadikan susunya dikaleng tidak punya jalan untuk memberikan anak mereka makanan bergizi. Itu yang pertama, yang kedua sudah sedemikian rupa. Apakah kita masih bermimpi dalam keadaan seperti itu, kita ingat dua tahun yang lalu seorang pejabat tinggi di kedutaan amerika ditangkap disebuah diskotik dengan sebuah transaksi NARKOBA oleh keamanan Indonesia dilepaskan belum sampai 36 jam, kenapa ? kita ‘menganut kemanusiaan yang adil dan beradab’ kalau kita tangkap dia, kita tahan dia tidak adil dan beradab, apa hubungannya ? Dia kan, mau bunuh diri dengan mogok makan kalau kita biarkan mati, dan kita kan tidak ingin karenanya. Ooh jadi membiarkan seperti itu, menahan orang jahat tidak berprikemanusiaan membiarkan atau menebarkan NARKOBA itu tidak berprikemanusiaan bukan begitu…. biarlah diadili dia di negerinya nanti. Sampai hari ini kita tidak dapat laporan apakah dia bagaimana di vonis apa yang terjadi ? Kalau seorang pejabat tinggi sebuah negara yang sebesar itu melakukan transaksi NARKOBA kesimpulan apa yang bisa kita petik. Apakah penghancuran negri ini suatu kebetulan, atau kah pencarian kekayaan iseng-iseng untuk memupuk kekayaan diri atau kah ada target yang lebih jauh dari itu yaitu penghancuran generasi kedepan, kita tidak aman lagi melepaskan anak kita ke SMP karena anak SD pun sudah dibajak mereka. Begitu banyaknya orang ketergantungan dan hancur 1,3 juta 15 % hampir bisa dipastikan akan mati karena over dosis, selebihnya kalaupun sembuh dia tidak bisa sekolah lagi otaknya tidak bisa lagi berfikir. Inilah sebuah bangsa yang kemerdekaannya ditebus oleh darah, darah uamat Islam, darah syuhada, darah santri, darah ‘ulama, dan jiwa para pahlawan kita para pejuang kita dan hari ini di pecah di hancurkan dengan bermacam-macam
Yang terakhir kita masih pada tataran aqliyyah tasywif, cara berfikir nanti, tunggu-tunggu, tentu saja kita tidak akan tergesa-gesa dala arti kata merusak atau menghancurkan negri ini, tapi tasywif –perubahan- harus betul-betul cepat. Itulah keunggulan sahabat Rasulullah s.a.w. mereka cepat merubah diri mereka dibawah naungan Al-Qur’an tidak menunda-nunda sehingga hati mereka menjadi keras.
Ma’a syirol Muslimin Rahimakumullah
Demikianlah, dalam sebuah pesan disebutkan “man …………………………………….”barang siapa yang lamban dalam ‘amalnya, nasabnya keturunannya, nisbahnya, statusnya sebagai muslim atau turunan muslim atau turunan ‘ulama’ tidak akan membuat dia menjadi cepat di akhirat nanti. --Dalam sebuah hadits, kaitan dengan kecepatan perubahan dalam kehidupan menuju arah yang positif-- . Semoga Allah swt. melindungi kita, dari kehancuran dan kehinaan dari rekayasa orang lain yang menghancurkan diri kita karena kelemahana dan ke-ma’syiyatan diri kita.







terimakasih kumpulan² tulisan ust Rahmat Abdullah...
sudilah kiranya saudara mampir ke website saya