Note : Ini bukan status Politik :)

Yang paling penting yg ingin saya share dipagi yg cerah ini adalah; ketika kita melihat parade kebohongan semakin nyata, ketika media dan penguasa berkerjasama memarginalisasikan kehidupan rakyat ketjil,  disaat kedaulatan negara di titik nadir perjalanan sejarah bangsa ini....disaat kejumudan menjadi puisi indah bagi pengikut pendusta yang telah terhijab nuraninya dari akal sehat dan
realita jiwa..

Disanalah... yah disana... ada pesan khusus bagi kita, sebuah CERMIN besar bhw dalam diri kita pun ada bertebaran dusta, mari melihat ke dalam dng bashiroh yg jernih, bukankah dusta itu masih bertebaran dlm jiwa Kita??

#duh ternyata diri ini msh sarat dengan autsah2 maknawiyah (polutan2 jiwa).
Akhir-akhir ini kita menjumpai banyaknya fakta tak terbantahkan ketika para pemimpin itu berkata dan berjanji bohong, tapi itu bukan berarti kita menjadi hakim atas mereka. Syaikh Hasan Hudhaibi mengatakan "Nahnu Dua'at
Laa Qudhat" (kita adalah penyeru bukan hakim).

Saya terharu banyak sahabat fb bs melihat dng kebeningan jiwa dan nalar yg sehat melihat fenomena akhir-akhir ini.
Menyuarakan kebenaran adalah kewajiban. "Afdholu jihad Kulil haq inda sulthoni jair.." Artinya sebaik-baiknya jihad adalah menyampaikan kalimat kebenaran (dng cara yg benar tentunya) kepada penguasa dzalim, dlm konteks ini kebohongan berseri tentu masuk dlm kategori kedzaliman.

Yg perlu dicatat disini adalah cara menyampaikannya, apalagi kita sebagai rakyat yg mewakili diri sendiri shg hisabnya pun tanggung jawab pribadi.

Ibnu Katsir bahwa Menyampaikan kalimat kebenaran yg dituntunkan adalah "Qoulan layyina" yakni perkataan yg Lemah lembut, santun, mudah dimengerti,meresap ke dalam
jiwa.

Sungguh benarlah imam syahid Hasan Al-Banna ketika menguraikan ttg marotibul amal islami, hal pertama yg selalu kita harus cek kedalam diri adalah islahun nafs, kebersihan jiwa, ketika kita bertemu kebohongan, itulah
resonansi dr law of universal, bhw dlm diri kita pun masih punya itu, jd saat ini adalah saat yg tepat untuk bersih- bersih dr berbagai dusta dan penyakit hati.

Hal kedua yg disampaikan Hasan al banna adalah takwin bait muslim, membentuk dan menjaga keluarga kita, menerapkan bersih hati dan bersih amal pd keluarga. Yg ketiga adalah irsyadul mujtama, berbuat melayani sesama dng amal nyata sbg pengejawantahan rahmatan lil alamien, bagaimana sikap dan amal kita diantara tetangga dan masyarakat, sudahkah kita hadir berada di tengah mereka sbg "Halul Qodhoya al ijtimaiyah" (keberadaan kita di masyarakat sbg bagian dr solusi).
Barulah langkah selanjutnya adalah tahriru wathon, membebaskan tanah air
dari belenggu penjajahan apapun itu bentuknya, disinilah islahul hukumah, perbaikan bangsa dan negara selaras.
Ke lima hal dasar td terus beriring sejalan, dng panglimanya adalah kebeningan hati dan amal muntijah (produktif), tampil di masyarakat sbg tsamaratul hasanah (pohon kebaikan), sehingga umat islam layak menjadi Ustadziatul alam (Gurunya peradaban).
Mari terus menyampaikan kebenaran dng cara yg benar dan hati yg damai, seperti suara mereka, suara dari nurani yang
memantulkan Cahaya dari dada-dada mereka (fii shudurihim), merekalah para pejuang cahaya.

Stop Cursing the darkness, its a time to light up a candle, lets go back to barack ... preparing the next generation...

Mari terus bersih-bersih / tazkiyatun nafs...
Fokuskan kiblat hati dan pikiran kita dlm berkata danberbuat...
"Hasbi Robbi Jalallah, Maa Fii qolbi ghoirulah".
....
Wallahu alam
Teruntuk para pewaris negeri, Yang berjalan di jalan cahaya..
Terima kasih, aku mengasihimu...
Padamu Negeri Kami Berbakti...

0 Comments:

Post a Comment